Selasa, 29 April 2014

Kurikulum Pembelajaran

Edit Posted by with No comments
MAKALAH
PENDEKATAN MODEL PENGEMBANGAN KURIKULUM
diajukan untuk Memenuhi Tugas Kelompok Mata Kuliah
Kurikulum Pembelajaran
Tanggal Praktikum : 24 Februari 2014

logo-upi.jpg
Dosen Pembimbing :
Drs. Didi Supriadie, M.Pd.
disusun oleh :
Laela Nurjanah (1204824)
Seli Yuliawati (1201752)
Yeyet Siti Nurhaeti (1203113)

PENDIDIKAN KIMIA
FAKULTAS PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
BANDUNG
2014




BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pengembangan kurikulum merupakan suatu kegiatan yang memberikan jawaban atas sejumlah tuntutan kebutuhan yang berkembang pada pendidikan. Pengembangan kurikulum dilakukan atas sejumlah komponen pada pendidikan, di antaranya pada pembelajaran yang merupakan implementasi dari kurikulum. Hasil dari proses ini adalah adanya perubahan pada guru dan siswa, serta komponen lainnya. Pandangan tentang kurikulum dikenal dalam dimensi kurikulum yang membedakan peran dan fungsinya. Oleh karena itu perlu dipahami mengenai seluk beluk kurikulum.
Dalam pengembangan kurikulum terdapat pendekatan dan model pengembangan kurikulum. Pendekatan kurikulum dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang secara umum tentang proses pengembangan kurikulum. Dengan demikian pendekatan pengembangan kurikulum menunjuk pada titik tolak atau sudut pandang secara umum tentang proses pengembangan kurikulum. Sedangkan model dalam kurikulum adalah komponen yang sangat menentukan keberhasilan sebuah proses pendidikan.
Banyak model yang dapat digunakan dalam pengembangan kurikulum.pemilihan suatu model pengembangan kurikulum bukan saja didasarkan atas kelebihan dan kebaikan-kebaikannya serta kemungkinan pencapaian hasil yang optimal, tetapi juga perlu disesuaikan dengan system pendidikan dan system pengelolaan pendidikan yang dianut serta model konsep pendidikan mana yang digunakan. Model pengembangan kurikulum dalam system pendidikan dan pengelolaan yang sifatnya sentralisasi berbeda dengan yang sifatnya desentralisasi. Model pengembangan dalam kurikulum yang sifatnya subjek akademis berbeda dengan kurikulm humanistik, teknologis, dan rekonstruksi social.

B. Rumusan Masalah
1. apa yang dimaksud dengan pendekatan dan model pengembangan kurikulum?
2. apa saja macam-macam pendekatan dan model pengembangan kurikulum?
3. bagaimana kesiapan pelaksana kurikulum dalam mengimplementasikan kurikulum 2013 yang menggunakan model pengembangan administrator?

C. Tujuan
1. untuk mengetahui pengertian Pendekatan dan Model Pengembangan Kurikulum
2. untuk mengetahui macam – macam Pendekatan dan Model Pengembangan Kurikulum
3. Untuk mengetahui kesiapan pelaksana kurikulum dalam mengimplementasikan kurikulum 2013 yang menggunakan model pengembangan administrator






BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian
Dalam pengembangan kurikulum terdapat pendekatan dan model pengembangan kurikulum. Pendekatan kurikulum dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang secara umum tentang proses pengembangan kurikulum. Dengan demikian pendekatan pengembangan kurikulum menunjuk pada titik tolak atau sudut pandang secara umum tentang proses pengembangan kurikulum. Sedangkan model dalam kurikulum adalah komponen yang sangat menentukan keberhasilan sebuah proses pendidikan.
Dalam mengembangkan suatu kurikulum banyak pihak yang turut berpartisipasi yaitu administrator pendidikan, ahli pendidikan, ahli kurikulum, ahli bidang ilmu pengetahuan, guru-guru dan orang tua murid serta tokoh-tokoh masyarakat. Dari pihak-pihak tersebut yang secara terus menerus turut terlibat dalam pengembangankurikulum adalah administrator, guru, dan orang tua.
Administrator pendidikan terdiri atas: direktur bidang pendidikan, pusat pengembangan kurikulum, kepala kantor wilayah, kepala kantor kabupaten dan kecamatan serta kepala sekolah. Peranan para administrator ditingkat pusat (direktur dan kepala pusat) dalam pengembangan kurikulum adalah menyusun dasar-dasar acto, menyusun kerangka dasar serta program inti kurikulum. Atas dasar kerangka dasar dan program inti tersebut para administrator daerah (kepala kantor wilayah) dan administrator local (kabupaten, kecamatan, dan kepala sekolah) mengembangkan kurikulum sekolah bagi daerahnya yang sesuai dengan kebutuhan daerah. Para kepala sekolah terlibat dalam pengembangan dan implementasi kurikulum,memberikan dorongan dan bimbingan kepada guru-guru.
Pengembangan kurikulum bukan saja didasarkan atas perubahan tuntutan kehidupan dalam masyarakat, tetapi juga perlu dilandasi oleh perkembangan konsep-konsepdalam ilmu. Oleh karena itu pengembangankurikulum membutuhkan bantuan pemikiran para ahli, baik ahli pendidikan, ahli kurikulum, maupun ahli bidang study / disiplin ilmu.
Partisipasi para ahli pendidikan dan ahli kurikulum terutama sangat dibutuhkan dalam pengembangan kurikulum pada tingkat pusat. Apabila pengembangan kurikulum sudah banyak dilakukan pada tingkat daerah atau local,maka partisipasi mereka pada tingkat daerah, local, juga sekolah sangat diperlukan, sebab apa yang telah digariskan pada tingkat pusat belum tentu dapat dengan mudah dipahami oleh para pengembang dan pelaksana kurikulum didaerah. Pengembangan kurikulum juga membutuhkan partisipasi para ahli bidang studi / bidang ilmu yang juga mempunyai wawasan tentang pendidikan serta perkembangan tuntutan masyarakat. Sumbangan mereka dalam memilih materi bidang ilmu, yang mutakhir dan sesuai dengan perkembangan kebutuhan masyarakat sangat diperlukan.
Guru memegang peranan yang cukuppenting baikdidalamperencanaan maupun pelaksanaan kurikulum. Salah satuperananguru adalah menilai implementasi kurikulum dalam lingkup yang lebih luas. Hasil-hasil penilaian demikian akan sangat membantu pengembangan kurikulum,untukmemahami hambatan-hambatan dalam implementasi kurikulum dan juga dapat membantu mencari cara untuk mengoptimalkan kegiatan guru.
Peranan orang tua dalam pengembangan kurikulum berkenaan dengan dua hal : pertama dalam penyusan kurikulum dankedua dalam pelaksanaan kurikulum. Dalam penyusunan kurikulum tidak semuaorangtua ikut serta,hanya terbatas kepada orang saja yang cukup waktu dan mempunyai latar belakang yang memadai. Peranan orang tua lebih besar dalam pelaksanaan kurikulum. Dalam pelaksanaan kurikulum diperlukankerja samayang sangat erat antara guru atau sekolah denganpara orang tua murid. Sebagian kegiatan belajar yang dituntut kurikulum dilaksanakan dirumah, dan orang tua sewajarnya mengikuti atau mengamati kegiatan belajar anaknya dirumah.
Dalam pengembangan kurikulum terdapat actor-faktor yang mempengaruhinya yaitu perguruan tinggi, masyarakat dan system nilai. Kurikulum mendapat dua pengaruh dari perguruan tinggi yaitu dari pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dikembangkan diperguruan tinggi umum dan pengembangan ilmu pendidikan dan keguruan serta penyiapan guru-guru di perguruan tinggi keguruan. Pengaruh dari masyarakat adalah dari dunia usaha. Perkembangan dunia usaha yang ada di masyarakat mempengaruhi pengembangan kurikulum sebab sekolah bukan hanya mempersiapkan anak untuk hidup, tetapi juga untuk bekerja dan berusaha. Pengaruh dari system nilai yaitu adanya masalah utama yang dihadapi para pengembang kurikulum menghadapi nilai bahwa dalam masyarakat nilai itu tidak hanya satu.

B. Pendekatan dan Model Pengembangan Kurikulm
1. Pendekatan Pengembangan Kurikulum
Pendekatan dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang seseorang terhadap suatu proses tertentu. Sedangkan pendekatan pengembangan kurikulum merujuk pada titik tolak atau sudut pandang umum tentang proses pengembangan kurikulum. Menurut Sukamadinata (2000:I), pengembangan kurikulum bisa diartikan sebagai penyusunan kurikulum yang sama sekali baru (curriculum construction), bisa juga menyempurnakan kurikululm yang telah ada (curriculum improvement). Pengembangan kurikulum berisi tentang penyusunan seluruh perangkat kurikulum (dasar-dasar kurikulum, struktur dan sebara mata pelajaran, garis-garis besar program pengajaran, pedoman-pedoman pelaksanaan yang disbut juga macro curriculum) dan penjabaran kurikulum menjadi persiapan-persiapan mengajar yang lebih khusus, yang dilakukan oleh guru sperti menyusun rencana tahunan, caturwulan, satuan pelajaran dan lain-lain (micro curriculum). Pengembangan kurikulum itu sendiri bergantung pada pendekatan dan model pengembangan kurikulum.
Ada dua jenis pendekatan kurikulum, yakni pertama pendekatan top down atau pendekatan administrative yaitu pendekatan dengan sistem komando dari atas ke bawah, kedua pendekatan grass root atau pengembangan kurikulumyang diawalli oleh inisiatif dari bawah lalu disebarluaskan pada tingkat atau skala yang lebih luas, dengan istilah singkat sering dinamakan pengembangan kurikulum dari bawah ke atas.
1.      Pendekatan Top down
Pengembangan kurikulum muncul atas inisiatif para pejabat pendidikan atau para administrator atau dari pemegang kebijakan (pejabat) pendidikan seperti dirjen atau para kepala kantor wilayah. Selanjutnya, melalui komando akan disebarluaskan ke bawah atau disebut sebagai line staff model. Diterapkan dalam system pendidikan sentralisasi.
Prosedur pengembangn kurikulum model ini dilakukan sebagai berikut:
Langkah pertama, pembentukan tim pengarah oleh pejabat pendidikan yang terdiri dari para pengawas pendidikan, ahli kurikulum, disiplin ilmu ataupun tokoh-tokoh dari dunia kerja. Tugasnya dalah merumuskan konsep dasar, garis-garis besar kebijakan, menyiapkan rumusan falsafah dan tujuan umum pendidikan.
Langkah kedua, menyusun tim untuk menjabarkan kebijakan atau rumusan-rumusan yang telah dibentuk pada langkah pertama. Anggotanya adalah ahli kurikulum, ahli disiplin ilmu dari berbagai perguruan tinggi dan guru-guru senior yang diaggap telah berpengalaman. Tugas utamanya adalah untuk menjabarkan rumusan  kebijakan menjadi lebih operasional, memilih dan menyusun sequence bahan pelajaran, memilih strategi pengajaran dan alat petunjuk dan cara pengevaluasian serta menyusun pedoman-pedoman pelaksanaan kurikulum bagi guru.
Langkah ketiga, penyerahan hasil perumusan dan penjabaran kepada tim perumus untuk dikaji dan direvisi. selain itu, bisa juga melakukan uji coba dan dievaluasi kelayakannya. Hal ini dapat dijadikan sebagai bahan penyempurnaan.
Langkah keempat, kurikulum diimplementasikan disetiap sekolah berdasarkan komando dari administrator.
Pada prinsipnya pengembangan kurikulum dengan model ini bersifat tidak demokratis, Karena prakarsa, inisiatif dan arahan dilakukan melalui garis staf hirarkis dari atas ke bawah, bukan berdasarkan kebutuhan dan aspirasi dari bawah ke atas; Pengalaman menunjukkan bahwa model ini bukan alat yang efektif dalam perubahan kurikulum secara signifikan, karena perubahan kurikulum tidak mengacu pada perubahan masyarakat, melainkan semata-mata melalui manipulasi organisasi dengan pembentukkan macam-macam kepanitian. Kelemahan utama dari model administratif adalah diterapkannya konsep dua fase, yakni konsep yang mengubah kurikulum lama menjadi kurikulum baru secara uniform melalui sistem sekolah dalam dua fase sendiri-sendiri, yakni penyiapan dokumen kurikulum baru, dan fase pelaksanaan dokumen kurikulum tersebut.
Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa model pendekatan ini menitik beratkan pada pembuatan dan penyusunan kurikulum oleh pemegang kebijakan, sedangkan guru hanya berperan sebagai pelaksana kebijakan sesuai dengan komando pemegnag kebijakan. Oleh karena itu, proses pengembangan top down ini juga disebut sebagai pendekatan system komando.

2.      Pendekatan Grass Roots
Pada pendekatan ini kurikulum dikembangkan dari bawah keatas, yakni guru sebagai implementator memberikan inisiatif dalam pengembangan kurikulumnya lalu inisiatif ini dikembangkan kelingkungan yang lebih luas. Pendekatan ini disebut juga sebagai pendekatan bawah ke atas. Prinsip dasar ini lebih banyak digunakan dalam penyempurnaan kurikulum, namun dalam skala yang terbatas dapat juga digunakan untuk mengembangkan kurikulum baru.
Guru dapat berinisitif juka kurikulum yang digunakan bersifat fleksibel, sehingga memebrikan kesempatan pada guru untuk memperbaharui dan menyempurnakan kurikulum yang sedang diberlakukan. Hal ini bisa dilakukan jika guru yang bersangkutan bersikap professional dan memiliki kemampuan yang memadai.
Langkah-langkah yang harus dilakukan dalam penyempurnaan kurikulum ini, adalah sebagai berikut:
Langkah pertama, kesadaran akan adanya masalah. Seperti, dirasa adanya ketidakcocokan penggunaan strategi pembelajaran, kegiatan evaluasi yang tidak tepat dan lain lain. Kesadaran inilah yang menjadi kunci dalam model pendekatan ini.
Langkah kedua, mengadakan refleksi. Setelah menyadari adanya masalah maka yang berikutnya dilakukan adalah mencari penyebab-penyebabnya. Langkah ini dapat dilaksanakan dengan melakukan pengkajian dari berbagai literature dan melakukan diskusi-diskusi dengan teman sejawat dan lain lain.
Langkah ketiga, mengajukan hipotesis. Dari berbagai literature dan hasil refleksi, guru memetakan kemungkinan-kemungkinan penyelesaian permasalahannya. Inilah yang disebt sebagai hipotesis atau dugaan sementara.
Langkah keempat, memilih hipotesis yang memiliki kemungkinan terbesar dalam penyelesaian masalah tersebut. Kemudian menyusun rencana penyelesaian masala-masalah tersebut.
Langkah kelima, mengimplementasikan perencanaan dan mengevaluasinya secara terus menerus hingga masalah tersebut dapat diselesaikan.
Langkah keenam, membuat laporan hasil pelaksanaan pengembangan kurikulum melalui grass root. Langkah ini penting sebagai bahan publikasi dan diseminasi, sehingga dapat dimanfaatkan dan diterapkan oleh orang lain dan dapat disebar luaskan.
Pada pendekatan ini, kurikulum dikembangkan berdasarkan inisiatif guru sehingga guru memiliki peran yang lebih besar daripada administrator. Dalam pendekatan ini, administrator berperan sebagai fasilitator dan motivator. Penyempurnaan kurikulum ini dapat dilakukan secara individual oleh guru ataupun dapat dilakukan secara berkelompok oleh kelompok guru, maupun oleh sekolah. Model pendekatan ini banyak diterapkan dalam system pendidikan desentralistik. Dengan adanya otonomi dalam mengembangkan dan menyempurnakan kurikulum, maka kana terjadi adanya persaingan untuk mencapai kualitas yag setinggi-tingginya antar daerah bahkan sekolah.
2. Model-model Pengembangan Kurikulum
Menurut Good (1972) dan Trvaers (1973), model adalah abstrasi dunia nyata atau representasi peristiwa kompleks atau system, dalam bentuk naratif, matematis, grafis serta lambing-lambang lainnya. Model adalah rancangan yang dapat digunakan untuk menterjemahkan sesuatu ke dalam realitas yang bersifat lebih praktis. Model digunakan untuk mempermudah komunikasi, sebagai petunjuk prespektif untuk mengambil suatu keputusan atau sebagi petunjuk perencanaan untuk kegiatan pengelolaan. Model yang baik adalah yang dapat dibaca secara menyeluruh dan radikal oleh setiap orang. Model ini memiliki manfaat sebagai berikut:
a.dapat menjelaskan beberapa aspek perilaku dan interaksi manusia,
b.dapat mengintegrasikan seluruh pengetahuan hasil observasi dan penelitian,
c. dapat menyederhanakan suatu proses yang kompleks, dan
d.dapat digunakan sebagai pedoman untuk melakukan kegiatan.
Dalam pengembangan kurikulum terdapat beberapa model yang dapat digunakan. Model-model tersebut memiliki ciri khas baik dari keluasan pengembangannya ataupun tahapan pengembangannya. Berikut adalah macam-macam pengembangan kurikulum:

1. Model Tyler
Model pengembangan menurut Tyler didasarkan pada empat hal, yakni tujuan pendidikan, pengalaman belajar, pengorganisasian pengalaman belajar dan pengevaluasian.
a.       Penentuan Tujuan
Tujuan adalah sasaran akhir yang harus dicapai dalam program pendidikan dan pembelajaran. Tujuan pendidikan harus dapat menggamarkan perilaku akhir peserta didik setelah mengikuti program pendidikan. Oleh karena itu, sasaran akhir ini harus dirumuskan secara jelas untuk memudahkan proses pencapaian dan penilaian berhasil tidaknya suatu program pendidikan.
Penentuan tujuan ini juga dipengaruhi oleh filsafat dan teori serta model kurikulum yang digunakan. Perumusan tujuan pendidikan ini dipengaruhi oleh hakikat peserta didik, keadaan masyarakat dan pendapat para ahli. Model pendekatan yang difokuskan pada kajian ilmu pengetahuan lebih dikenal sebagai discipline oriented. Pengembangan kurikulum humanistic lebih menekankan pada pengembangan peserta didik dan biasa disebut sebagi child centered.  Sedangkan, kurikulum rekonstruksi social lebih menekankan pada perbaikan kehidupan masyarakat dan dikenal sebagai society centered.
Arah penentuan tujuan pendidikan didasarkan pada lima factor, yakni pengembangan proses berfikir peserta didik, membantu memperoleh informasi, mengembangkan sikap kemasyarakatan, pengembangan minat siswa dan pengembangan sikap social. Factor pertama dan kedua mengacu pada discipline oriented, faktor keempat mengacu pada child centered dan faktor lain mencerminkan pada society centered.
b.      Menentukan Proses Pembelajaran (Pengalaman Belajar)
Setelah tahu apa yang akan dituju, maka langkah selanjutnya yakni menentukan langkah apa yang akan digunakan untuk mencapai tujuan tersebut. Proses pembelajaran yang seperti apa yang dibutuhkan dan sesuai.
Perumusan ini hendaknya mengacu pada siswa, jadi proses pembelajaran disesuaikan dengan minat, bakat dan kemampuan yang telah dimiliki siswa. Proses pembelajaran ini menyangkut berbagai interaksi, interaksi antar peserta didik, interaksi dengan lingkungannya dan lain-lain. Oleh Karena itu penentuan proses pembelajaran harus sesuai dengan tujuan pendidikan, harus dapat memuaskan siswa dan harus melibatkan siswa dalam setiap rancangan pendidikannya.
Pengalaman pembelajaran yang dapat dikembangkan dapat berupa kemampuan berfikir, pengalaman belajar yang membantu siswa mengumpulkan informasi, mengembangkan sikap social dan mengembangkan bakatnya.
c.       Pengorganisasian Pengalaman Belajar
Pengalaman belajar mencakup tahapan-tahapan belajar dan materi yang dipelajari. Pengorgainasian berfungsi untuk memberikan penjelasan yang pasti tentang apa yang akan dilakukan dalam proses pembelajaran tersebut.
Proses belajar dapat dikembangkan dengan dua jenis pengorganisasian, yakni yang pertama secara vertical. Pengorganisasian yang menghubungkan pengalaman belajar dalam bidang kajian yang sama namun dalam tingkatan yang berbeda. Misalnya, pengorganisasian pengalama belajar geografi pada kelas delapan dan sembilan. Jenis yang kedua, yakni pengorganisasian horizontal, yakni pengorganisasian pengalaman belajar dalam bidang kajian yang berbeda namun masih dalam tingkatan yang sama. Misalnya, pengorganisasian pembelajaran kimia dan fisika pada kelas sepuluh.
Pengorganisasian proses belajar ini harus menganut tiga prinsip, yaitu kontinouitas, urutan isi dan integrasi.
Prinsip kontinou dibagi menjadi dua yakni horizontal dan vertical. Prinsip kontinou vertical berarti bahwa pengalaman belajar harus berkesinambungan sehingga dapat digunakan untuk mengembangkan pengalam belajarnya pada tingkatan yang lebih lanjut. Sedangakn prinsip kontinou horizontal, mengharuskan pengalaman belajar yang diperolah oleh peserta didik harus mamapu mendukung ketrampilan pada bidang yang lainnya.
Sedangkan pada prinsip isi, lebih ditekankan pada tingkat kesulitan dalam proses pembelajaran dan keluasan bahasannya. Sedangkan prinsip integrasi menjelaskan bahwa antara satu tingkat dengan tingkat lain dan antara satu bidang dengan bidang lain harus saling berkaitan, hal ini tidak jauh berbeda dengan prinsip kontinou.
d.      Evaluasi
Evaluasi adalah suatu proses mengumpulkan data baik kualitatif maupun kuantitatif yang dapat dijadikan sebagai pedoman dalam mengambil keputusan. Dalam proses evaluasi ini, proses-proses sebelumnya akan dikaji, sehingga dapat diketahui apakah program tersebut telah berhasil atau belum, apakah tujuan-tujuan telah tercapai atau belum. Inilah yang disebut sebagai fungsi sumatif. Dalam evaluasi akan dinilai apakah telah terjadi perubahan tingkah laku pada peserta didik atau belum. Perbandingan anatara keadaan awal dan akhir muthlak diperlukan. Dalam proses evaluasi ini sebaiknya digunakan lebih dari satu instrument penilaian sehingga hasil yang diperoleh lebih valid. Selain itu evaluasi juga berfungsi untuk mengetahui apakah program yang telah dilaksanakan evektif ata tidak. Fungsi evaluasi ini disebut sebagai fungsi formatif.

1.      Model Taba (Inverted Model)
Model pengembangan kurikulum menurut Taba, lebih menitik beratkan pada pengembangan kurikulum dengan perbaikan dan penyempurnaan. Kurikulum dikembangkan secara induktif agar tercapai adanya pembaharuan kurikulum. Menurutnya, guru merupakan faktor utama pengembang kurikulum. Guru diposisikan sebagai innovator dalam pengembangangn kurikulum.
 Langkah-langkah dalam mengembangkan kurikulum menurut Hilda Taba adalah sebagai berikut:
a.       Mengadakan unit-unit hasil eksperimen
Sebelum mengadakan unit-unit percobaan, guru harus melakukan perencanaan berdasarkan teori-teori yang kuat, kemudian guru harus melakukan eksperimen didalam kelas agar data yang dihasilkan bersifat empiric dan teruji.
Adapun langkah-langkahnya adalah dengan mendiagnosis kebutuhan (menentukan latarbelakang siswa, apa yang dibutuhkan dan diinginkan siswa dan kelebihan serta kekerungan siswa); memformulasikan tujuan; memilih isi(sesuai tujuan, validitas, dan kebermaknaan terhadap peserta didik); pengorganisasian isi; pemilihan pengalaman belajar; pengorganisasian pengalaman belajar (berupa paket-paket pembelajaran); menentukan alat evaluasi serta prosedurnya; melihat sekuens dan keseimbangan kurikulum.
b.      Menguji unit eksperimen
Diujicobakan untuk mengetahui validitas dan kepraktisan, sehingga diperoleh data sebagai bahan penyempurnaan kurikulum.
c.       Merevisi dan mengkonsolidasi
Setelah dilakukan uji coba hasil uji coba digunakan untuk melakukan perbaikan atau revisi. Selain itu juga harus dilakukan konsolidasi untuk menyimpulkan hal-hal yang masih bersifat umum dan menentukan konsistensi teori yang digunakan. Hasilnya adalh teaching learning yang telah teruji di lapangan.
d.      Pengembangan keseluruhan kerangka kurikulum
Hasil penyempurnaan dan konsiladasi harus dapat diterapkan secara menyeluruh dan dikaji lebihlanjut oleh ahli kurikulum untuk dikembangkan lebih lanjut.
e.       Implementais dan Desiminasi
Hasil kajian tersebut diimplementasikan dan sebarluaskan ke sekolah-sekolah. Dalam tahap ini dibutuhkan data tentang kesulitan dan permasalahan-permasalahan  di lapangan untuk mengetahui dengan pasti persiapan implementator kurikulum.

2.      Model Oliva
Kurikulum harus bersifat simple, komprehensif dan sistematik.
Model kurikulum yang dikemukakan oleh Oliva terdiri dari 12 komponen, yakni:
Komponen pertama, perumusan filosofis, sasaran, misi dan visi yang didasarkan pada kebutuhan peserta didik dan analisis kebutuhan masyarakat. (tujuan umum)
Komponen kedua, Analisis tentang kebutuhan masyarakat disekitar satuan pendidikan, kebutuhan dan urgensi dari disiplin ilmu. (tujuan khusus)
Komponen ketiga dan keempat, berisi tujuan umum dan khusus yang didasarkan kebutuhan.
Komponen kelima, mengorganisasi rancangan dan implementasi kurikulum.
Komponen keenam dan tujuh, penjabaran kurikullum dalam tujuan umum dan khusus pembelajaran.
Komponen kedelapan,  penentuan strategi pembelajaran.
Komponen Sembilan, studi awal kemungkinan strategi atau teknik penilaian yang akan digunakan.
Komponen sepuluh, implementasi strategi pembelajaran dan penyempurnaan alat dan teknik
Komponen sebelas dan duabelas, evaluasi terhadap pembelajaran dan kurikulum.










Model ini dapat digunakan untuk penyempurnaan kurikulum dalam bidang-bidang khusus; sebagai bahan untuk membuat keputusan dalam merancang program dan sebagai pengembangan program secara khusus.

3.      Model Beauchamp
Beauchamp mengungkapkan terdapat lima langkah pengembangan kurikulum, yakni:
a.       Menentukan wilayah cakupan kurikulum
Wilayah yang akan digunakan untuk menerapkan kurikulum tersebut. Langkah ini dilakukan oleh pemegang kebijakan.
b.      Menetapkan persenolia
Menentukan orang-orang yang akan terlibat dalam penerapan kurikulum ini. Terdapat empat kategori, yakni: ahli kurikulum/pendidikan yang berkedudukan di pusat pengembangan kurikulum; ahli pendidikan dari perguruan tinggi dan guru-guru terpilih; para professional pendidikan; professional lain dan tokoh masyarakat. Dalam proses ini ditentuka nsapa saja yang terlibat dan apa saja peran dan tugas yang harus dilakukannya.
c.       Organisasi dan prosedur pengembangan kurikulum
Sebagai prosedur dalam penentuan tujuan umum, tujuan khusus, pemilihan isi dan pengalaman belajar, serta kegiatan evaluasi. Dalam tahap ini harus dilakukan beberapa hal yakni: pembentukan tim pengembangan kurikulum, mengadakan penelitian dan penilaian kurikulum yang telah berlaku, studi penjajagan tentang kemungkinan penyusunan kurikulum baru, penentuan kriteria-kriteria bagi penentuan kurikulum baru, dan penyusunan serta penulisan kurikulum baru.
d.      Implementasi kurikulum
Implementasi ini membutuhkan kesiapan guru, siswa, fasilitas, biaya, manajerial dan kepemimpinan di sekolah.
e.       Evaluasi kurikulum
Hal-hal yang harus dievaluasi adalah pelaksanaan kurikulum, desain kurikulumnya, hasil belajar peserta didik, dan keseluruhan system kurikulum.
Hasil yang telah terkumpul ini dijadikan sebagai bahan penyempurna kurikulum.

4.      Model Wheeler
Menurut Wheeler, proses pengembangan kurikulum mebentukan suatu siklus yang terus berputar dan terdiri dari lima tahapan. Suatu tahapan dapat dilakukan jika tahapan sebelumnya telah berhasil dilakukan. Dan setelah semua tahapan terlewati maka siklus akan kembali pada tahapan awal.
Tahapan-tahapan tersebut adalah sebagai berikut:
a.       Menentukan tujuan umum dan khusus
Tujuan umum bersifat normative yang mengandung tujuan filosofis dan bersifat praktis. Adapun tujuan khusus lebih bersifat spesifik dan mudah terukur ketercapaiannya.
b.      Menentukan pengalaman belajar
Pengalaman belajar yang harus dilakukan oleh siswa untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan
c.       Menentukan isi atau materi
Materi yang digunakan disesuaikan dengan pengalaman belajar yang telah direncanakan.
d.      Mengorganisasi pengalaman belajar
Menyatukan pengalaman belajar yang telah dirancang dan menyusunannya dengan masteri atau isi belajar.
e.       Melakukan evaluasi
Setiap tahap yang telah dilakukan dikaji kembali dan dievaluasi.

5.      Model Nicholls
Model Nicholls juga menggunakan pendekatan siklus, namun model pengembangan ini digunakan akibat terjadinya perubahan sitiasi. Langkah pengembangan kurikulum menurut Nicholls, yaitu:
a.       Analisis situasi,
b.      Menentukan tujuan khusus,
c.       Menentukan dan mengorganisasi isi pelajaran,
d.      Menentuikan dan mengorganisasi metode, dan
e.       Evaluasi.

6.      Model Dynemic Skilbeck
Model ini cocok bagi guru-guru yang ingin mengembangkan kurikulum sesuai dnegan kebutuhan sekolah. Langkah-langkah dalam mengembangkan kurikulum menurut model ini adalah sebagai berikut:
a.       Menganalisis situasi
b.      Memformulasikan tujuan
c.       Menyusun program
d.      Interpretasi dan implementasi, dan
e.       Monitoring, feedback, penilaian dan rekonstruksi.

7.      Model Miller-Seller
Model ini merupakan model kombinasi dari model transmisi (Gagne) dan model transaksi (Taba’s & Robison), dengan tahapan pengembangan sebagai berikut:
a.       Klarifikasi orientasi kurikulum
Dalam tahapan ini, orientasi harus diuji dan diklarifikasi. Orientasi ini merefleksikan pandangan filosofis, psikologis dan sosiologis. Dan ada tigfa jenis orientasi kerikulum yaitu transmisi, transaksidan transformasi.
b.      Pengembangan tujuan
Mengembangkan tujuan umum, tujuan khusus berdasarkan orientasi kurikulum yang bersangkutan. Tujuan umum merefleksikan pandangan orang dan masyarakat. Tujuan ini harus dijabarkan secara khusus hingga pada tujuan instruksional.
c.       Identifikasi model mengajar
Strategi mengajar harus sesuai dengan tujuan dan orientasi kurikulum. Strategi yang digunakan disesuaikan dengan tujuan, strukturnya sesuai kebutuhan siswa, guru harus memahami penerapan kurikulum, dan tersedianya sumber-sumber yang esensial.
d.      Implementasi
Hal-hal yang harus diperhatikan adalah komponen program studi, identifikasi sumber, peranan, pengembangan professional, penetapan waktu dan system monitoring.


Menurut Smith, Stanley, dan Shores model pengembangan kurikulum ini terdiri dari dua bentuk model. Yang pertama, guru atau sekelompok guru melakukan ujicoba kurikulum dengan melakukan penelitian dan pengembangan kurikulum. Dan hasilnya dapat diguanakan secara luas. Yang kedua, bebrapa guru yang merasa kurang puas tentang kurikulum yang sudah ada mengadakan eksperimen, ujicoba dan mengadakan pengembangan secara mandiri sebagai langkah perbaikan kurikulum.
Keuntungan model pengembangan ini adalah: lebih nyata dan ilmiah, perubahan kurikulumnya masih dalam skala kecil sehingga kemungkinan ditolak kecil, menghindari kesenjangan dokumen dan meningkatkan kreatifitas dan inisiatif guru.















Studi kasus :
Kesiapan Pelaksana Kurikulum dalam Menerapkan Kurikulum 2013 dengan Model Pengembangan Administrator (Pendekatan Top Down)

Kurikulum 2013 memang masih dalam tahap uji coba. Namun, sudah banyak masalah yang menyeruak mengenai perumusan hingga pelaksanaannya. Sehingga timbul banyak pertanyaan mengenai perlu atau tidaknya pergantian kurikulum di negeri ini.
Negara Indonesia dalam pengadaan kurikulum terbarunya yaitu kurikulum 2013 menggunakan model pengembangan kurikulum administrator. Model pengembangan kurikulum administrator atau juga dikenal sebagai model pengembangan Top Down adalah pendekatan dengan sistem komando dari atas ke bawah. Pengembangn kurikulum muncul atas inisiatif para pejabat pendidikan atau para administrator atau dari pemegang kebijakan (pejabat) pendidikan seperti dirjen atau para kepala kantor wilayah. Selanjutnya, melalui komando akan disebarluaskan ke bawah atau disebut sebagai line staff model. Diterapkan dalam sistem pendidikan sentralisasi.
Negara Indonesia telah mengalami beberapa kali pergantian kurikulum seiring dengan pergantian menteri pendidikan nasional (sekarang menteri pendidikan dan kebudayaan). Pergantian kurikulum pada dasarnya bertujuan untuk mengembangkan sesuai dengan perkembangan masyarakat. Pergantian kurikulum tersebut sering dibarengi dengan pergantian model pengembangan kurikulum. Salah satunya yaitu pergantian Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan tahun 2006 yang menggunakan model pengembangan kurikulum Grass Roots atau Down Top menjadi Kurikulum tahun 2013 yang menggunakan model pengembangan Administratif atau Top Down.
Pergantian kurikulum nasional yang dibarengi dengan pergantian model pengembangan kurikulum membutuhkan persiapan yang sangat matang agar saat kurikulum tersebut benar–benar diberlakukan secara nasional tidak ada masalah atau kendala yang justru akan memunculkan pandangan bahwa kurikulum tersebut telah mengalami kegagalan. Dibutuhkan waktu yang cukup segabai masa peralihan dari kurikulum sebelumnya ke kurikulum yang baru.
Salah satu yang membutuhkan persiapan sangat matang dalam memenuhi keberhasilan diterapkannya suatu kurikulum adalah kesiapan para pelaksana kurikulum yang terdiri dari pendidik, tenaga kependidikan, dan tentu saja satuan pendidikan. Pelaksana kurikulum di dalam model pengembangan kurikulum administrator tidak memegang peran dalam merumuskan kurikulum itu sendiri. Perumus kurikulum dalam model pengembangan ini adalah ahli kurikulum, ahli disiplin ilmu dari berbagai perguruan tinggi dan guru-guru senior yang diaggap telah berpengalaman. Berbeda dengan model pengembangan yang digunakan sebelumnya dimana pelaksana kurikulum dapat mengembangkan kurikulum sesuai dengan kebutuhan peserta didiknya. Dengan tidak diikutsertakannya guru atau pelaksana kurikulum dalam perumusan suatu kurikulun, dikhawatirkan kurikulum tersebut tidak sesuai dengan apa yang dibutuhkan para pelaksana kurikulum. Karena pada dasarnya pelaksana kurikulumlah yang mengetahui situasi pendidikan di lapangan, sehingga mereka sendiri lebih tahu apa yang sebenarnya harus diperbaiki dan dibutuhkan jika terdapat rencana pergantian kurikulum.
Kurikulum 2013 bersifat sentralisasi, artinya berasal atau berpusat dari atas (pemerintah) sehingga para pelaksana kurikulum di seluruh wilayah Indonesia harus mengacu kepada apa yang dirumuskan oleh pusat tanpa dapat merevisinya sesuai kebutuhan. Hal ini dikarenakan adanya tujuan pemerataan sehingga kualitas sekolah – sekolah dari Sabang sampai Merauke diharapkan sama.
Walaupun guru atau pelaksana kurikulum tidak diikutsertakan dalam perumusan kurikulum, sebelum kurikulum 2013 diujicobakan sebanyak 300.000 guru dilatih atau dibina untuk persiapan implementasi kurikulum. Namun, Darmaningtyas dalam artikelnya “Kendala Implementasi kurikulum 2013” menyatakan bahwa para guru sebenarnya merasa terdesak jika kurikulum baru diimplementasikan pada tahun ajaran 2013/2014, mereka berpendapat bahwa waktu yang ideal untuk implementasi Kurikulum 2013 adalah tahun ajaran 2014/2015.
Dalam bahasa pendidikan, pembinaan guru dinamakan dengan supervisi. Padahal supervisi diartikan melihat dari atas. Maka praktik-praktik supervisi lebih mengarah pada inspeksi, kepenilikan, dan kepengawasan. Apa yang disebut sebagai supervisi, pada kenyataannya hanyalah inspeksi. Pembinaan dengan model inspeksi bisa menyebabkan guru merasa takut,tidak bebas dalam melaksanakan tugas, dan tidak menjadi dorongan untuk menjadi maju. Sehingga adanya perganian kurikulum hayalah menjadi sia-sia.(Nawawi, 2007:170)
Pelatihan atau pembinaan  guru yang dilakukan untuk implementasi kurikulum 2013 dan yang diadakan setiap tahunnya sebenarnya sangat membantu untuk keberhasilan implementasi suatu kurikulum. Namun, perlu diingat bahwa kurikulum yang saat ini sedang diujicobakan adalah kurikulum yang bersifat sentralistik dan bertujuan untuk pemerataan sehingga jika tidak semua guru atau perwakilan guru di setiap daerahnya mengikuti pembinaan, dikhawatirkan tidak akan terjadi pemerataan sesuai yang diinginkan. Para guru pun akan dibuat kebingungan jika tidak memahami kurikulum baru karena sangat berbeda dengan kurikulum sebelumnya.
Kebingungan dan ketidaktahuan guru untuk menerapkan kurikulum baru pastinya akan berpengaruh terhadap peserta didik. tujuan kurikulum baru (kurikulum 2013) yang ingin membangun kareakter peserta didik menjadi jauh lebih baik pun tidak akan tercapai. Padahal jika guru dapat memahami dengan sungguh – sungguh apa itu kurikulum 2013 dan bagaimana mengimplementasikannya, tidak akan diragukan lagi bahwa peserta didik akan maju dalam segi afektif, kognitif, dan psikomotornya.
Dari paparan di atas, dapat disimpulkan bahwa kesiapan pelaksana kurikulum khususnya guru sangatlah penting dalam implementasi suatu kurikulum. Oleh karena itu, agar tujuan diadakannya pergantian kurikulum dapat tercapai (bukan hanya sekedar mengganti tanpa adanya kemajuan di bidang pendidikan), maka dibutuhkan sosialisasi dan pembinaan yang sangat intensif untuk para guru dari Sabang sampai Merauke. Karena keberhasilan utama dari diterapkannya suatu kurikulum adalah peran dari pelaksana kurikulum itu sendiri (guru). Dibutuhkan waktu dan dana yang cukup agar sosialisasi dan pembinaan guru dapat berjalan dengan baik dan menghasilkan guru yang siap melaksanakan kurikulum baru. Sebaiknya sosialisasi dan pembinaan dilakukan jauh-jauh hari minimal satu tahun sebelum dilakukan uji coba kurikulum, jangan di waktu yang bersamaan. Perumusan kurikulum sebaiknya walaupun menggunakan model adminstratif (pelaksana kurikulum tidak diikutsertakan dalam perumusan) tetap harus meminta atau mengumpulkan aspirasi dari para guru karena para gurulah yang mengetahui bagaimana kondisi dan seluk beluk di lapangan.















BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Pendekatan kurikulum dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang secara umum tentang proses pengembangan kurikulum. Sedangkan model dalam kurikulum adalah komponen yang sangat menentukan keberhasilan sebuah proses pendidikan.
Ada dua jenis pendekatan kurikulum, yakni pertama pendekatan top down atau pendekatan administrati, kedua pendekatan grass root.
Dalam pengembangan kurikulum terdapat beberapa model yang dapat digunakanyaitu :Model Tyler, Model Taba (Inverted Model), Model Oliva , Model Beauchamp, Model Wheeler, Model Nicholls, Model Dynemic Skilbeck, Model Miller-Seller.
Kesiapan pelaksana kurikulum dalam mengimplementasikan kurikulum 2013 yang menggunakan pendekatan administrative dapat disimpulkan tidak sepenuhnya siap, hal ini dikarenakan pelaksana kurikulum yang sebelumnya menggunakan pendekatan down top pada KTSP selama 7 tahun beralih pada penggunaan pendekatan top down dimana pendekatan top down ini pengembangan kurikulum muncul atas inisiatif para pejabat pendidikan atau para administrator atau dari pemegang kebijakan (pejabat) pendidikan, sehingga pelaksana kurikulum khususnya guru hanya tinggal melaksanakan kurikulum tersebut yang mungkin kurikulum tersebut tidak sesuai dengan kebutuhan, dan kemampuan pelaksana kurikulum untuk mengimplementasikannya.


B. Saran
Diterapkannya pendekatan administratif pada suatu kurikulum pada dasarnya bagus karena ada persamaan kurikulum yang mengharapkan kualitas dari Sabang sampai Merauke sama. Hal ini harus ditunjang dari kesiapan semua pelaksana kurikulum dari Sabang sampai Merauke untuk mengimplementasikannya. Pada kenyataannya pelaksana kurikulum tidak sepenuhnya siap untuk dapat mengimplementasikan kurikulum 2013 yang menggunakan pendekatan administratif, sehingga harus ada tinjauan ulang dari para administrator untuk mengupayakan cara yang tepat dalam pendekatan administratif ini supaya pelaksana kurikulum sepenuhnya siap mengimplementasikan kurikulum yang telah mereka rancang.



















DAFTAR PUSTAKA
Sanjaya,Wina. (2008). Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta : Kencana Prenada Media   Group.
Sukmadinata, Nana Syaodih. (2006). Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktek. Bandung : PT.Remaja Rosda Karya.


0 komentar:

Posting Komentar